Bandara Morowali dan Ijazah Jokowi: Dua Simbol Ketertutupan yang Membayangi Negeri

Artikel37 Dilihat
banner 468x60

Renungan dr Tifa

Biamillahirrahmanirrahiim

Hensway,id – Jakarta, Ada dua kisah besar yang kini bergaung di kepala rakyat Indonesia:
Bandara Morowali dan ijazah Presiden Jokowi.

Sekilas, keduanya tampak seperti dua dunia yang berbeda. Yang satu urusan infrastruktur, yang satu urusan legalitas pendidikan.
Yang satu berada di kawah industri nikel, yang satu berada di masa lalu seorang pemimpin.

Tapi bangsa ini tidak bodoh.
Bangsa ini paham ketika dua hal berbeda sebenarnya berbicara tentang pola yang sama:
Ketertutupan. Ketidakjujuran.

Bandara Morowali:
Ketika Negara Bertanya: Siapa yang Sebenarnya Berkuasa?

Ketika publik mulai mempertanyakan siapa yang mengendalikan bandara itu, izin, operasional, kepemilikan, dan jejaring kepentingan di baliknya,
Hingga publik terhenyak
ketika Menhan pemerintah yang baru, dengan geram menyebut adanya “negara dalam negara”, publik semakin resah.
Kalimat itu bukan hal sepele.
Kalimat itu membuka pintu pertanyaan tentang:

BACA JUGA:  Kasus Ijazah Jokowi, Ujian Integritas Indonesia sebagai Negara Hukum

transparansi,
kedaulatan,
dan siapa yang benar-benar memegang kendali di lokasi strategis seperti Morowali.

Dan bangsa pun teringat satu hal lain yang tak pernah diberi jawaban terang-benderang:

Ijazah Jokowi.

Sebagian rakyat bertanya sejak lama:
mengapa sesuatu yang sesederhana verifikasi ijazah bisa menjadi isu nasional yang tidak pernah selesai?
Mengapa jawaban itu tidak diberikan secara tuntas, terbuka, dan final?

Isu ijazah itu bukan soal pendidikan.
Bukan soal gelar.
Bukan soal IPK.

Itu soal kejujuran orang yang pernah berkuasa kepada rakyatnya.

Ketika Morowali muncul ke permukaan dengan segala keanehan kepengurusannya, publik spontan menghubungkannya dengan pola yang mereka lihat sejak era Jokowi:

BACA JUGA:  Catatan Wilson Lalengke : Suara Rakyat di Forum PBB

keputusan-keputusan besar tanpa penjelasan rinci,
relasi kekuasaan yang tidak transparan,
informasi-informasi dasar yang sulit diakses,
dan ketertutupan yang terlalu tebal untuk sebuah republik.

Maka wajar ketika masyarakat bertanya:

Apakah kita sedang melihat dua wajah dari masalah yang sama?
Apakah Bandara Morowali adalah cermin dari gaya tata kelola yang sama dengan misteri ijazah itu , sebuah budaya politik yang menjadikan ketertutupan dan kebohongan sebagai regulasi kekuasaan?

Saya tidak menilai pribadi.
Saya menilai pola.
Karena bangsa bergerak bukan oleh individu, tetapi oleh mentalitas kekuasaan.

Ijazah Jokowi menjadi tanda.
Bandara Morowali adalah fakta.

Dua-duanya mengajarkan satu hal:
rakyat haus keterbukaan.
Rakyat membutuhkan kejelasan.
Rakyat merasa selama ini diajak hidup dalam kebijakan yang penuh penyelubungan.

BACA JUGA:  Tugas Jurnalis itu Menulis Bukan Mengemis : Mengamalkan Nilai Jurnalisme Sejati

Dan ketika selubung itu mengitari seorang mantan presiden, lalu menyelimuti pula sebuah bandara strategis, bangsa bertanya:

Apakah ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat?
Apakah kita sedang melihat pola ketertutupan sistemik yang terbentuk selama 10 tahun terakhir?

Ini bukan tuduhan.
Juga bukan sebuah vonis.
Yang ada hanyalah permintaan moral anak bangsa kepada pemimpinnya:

Buka semuanya.
Jelaskan semuanya.
Karena tanpa keterbukaan, negara ini akan terus tersandera dalam kabut kebohongan demi kebohongan.

Hasbunallah wani’mal wakil.
Ni’mal maula wani’man nashiir.
Laa haula wala quwwata ila billah.

Salam takzim
dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *